Petani padi Benggala Barat melihat titik terang di Afrika

Kolkata: Para petani padi dari Negara Bagian Benggala Barat, produsen beras terbesar India, sedang menjajaki pasar Afrika untuk mengekspor produk mereka, menyusul penurunan permintaan dari Bangladesh. “Kami sedang mengincar Afrika Selatan dan Barat untuk mengekspor beras kami yaitu beras varietas G1or Swarna Laghu,” kata Subrata Mondol, sekretaris jenderal Asosiasi Penggilingan Padi Distrik Burdwan. Varietas beras yang umum tersedia di pasar grosir harganya Rs 25 per kg. “Kami berhubungan dengan agen yang menangani negara-negara Afrika. Kami telah mengirim sampel beras ke negara-negara Afrika. Kami berharap bisa segera mendengar kabar dari mereka, “kata Mondol. Langkah tersebut berlanjut bahkan saat ekspor beras ke Bangladesh menyusut pada bulan November, yang telah menurunkan harga di pasar domestik. Harga beras telah melonjak lebih dari 20 persen sejak bulan September ketika Bangladesh mulai mengimpor beras setelah banjir mempengaruhi hasil panennya.

Sumber : Bengal rice farmers see a bright spot in Africa

Posted in Berita Pertanian | Leave a comment

Vietnam Belum Menabur Benih Padi Rendah Karbon

Di Việt Nam, emisi gas rumah kaca (GRK) dari budidaya padi diperkirakan mencakup lebih dari setengah emisi oleh produksi pertanian secara keseluruhan.- Foto nongnghiep.vn

HÀ NỘI – Investasi dalam model pertanian rendah karbon dapat mempercepat reformasi industri padi, meningkatkan produktivitas, meningkatkan pendapatan petani dan memastikan pembangunan berkelanjutan, kata seorang pejabat senior.

Ini juga akan membantu negara tersebut untuk mengakses dana perubahan iklim untuk pertumbuhan hijau, Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Lê Quốc Doanh mengatakan pada konferensi tersebut, yang diselenggarakan bersama oleh Kementerian dan Program Penelitian tentang Perubahan Iklim, Pertanian dan Ketahanan Pangan di Asia Tenggara, di Hà Nội pada tanggal 1 Desember. Continue reading

Posted in Berita Pertanian | Leave a comment

Varietas Padi Baru Menjadi Sorotan

Padi baru Japonica di Kamboja tapi sudah sangat populer di China. KT / Chor Sokunthea

Kerajaan Kamboja dan China akan menandatangani sebuah kesepakatan dalam waktu dekat untuk mendukung penelitian tentang pengembangan varietas padi baru di kerajaan tersebut, menurut Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (MAFF) Kamboja.

MoU yang diusulkan, yang sedang dinegosiasikan oleh MAFF dan mitra China-nya, akan meletakkan peraturan untuk kerja sama antara kedua negara dalam melakukan penelitian tentang varietas padi yang dikenal dengan nama oryza sativa japonica.

Tujuan utamanya adalah menanam tanaman varietas tersebut di Kamboja dan mengekspornya ke China, di mana permintaan akan varietas tersebut sangat besar.

“Kesepakatan tersebut akan membantu kami melakukan penelitian yang diperlukan untuk menanam padi japonica di Kamboja,” kata Hean Vanhan, Direktur Jenderal MAFF.

Continue reading

Posted in Berita Pertanian | Leave a comment

Para ilmuwan berhasil mengakali fotosintesis untuk meningkatkan hasil panen

Sebagaimana diprediksikan dengan model komputer, tanaman rekayasa genetis lebih mampu memanfaatkan sinar matahari yang ketersediaannya terbatas saat daunnya berada di tempat teduh, demilian para peneliti melaporkan. Kredit: Julie McMahon

Para peneliti melaporkan dalam jurnal Sains bahwa mereka dapat meningkatkan produktivitas tanaman dengan meningkatkan level dari tiga protein yang terlibat dalam fotosintesis. Dalam uji coba lapangan, para ilmuwan melihat kenaikan produktivitas dari 14 persen menjadi 20 persen  pada tanaman tembakau rekayasa (dimodifikasi). Penelitian tersebut menegaskan bahwa fotosintesis dapat dibuat lebih efisien untuk meningkatkan hasil tanaman, yang mana merupakan suatu hipotesis yang pernah diragukan oleh sebagian komunitas ilmiah. Continue reading

Posted in Berita Pertanian | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Studi Menunjukkan Bahwa Tanaman Hasil Rekayasa Genetik Ternyata Aman

crops

Credit: SC Department of Agriculture

22 September, 2016 oleh Sara Lajeunesse

Tanaman-tanaman rekayasa genetis ternyata tidak berbeda dengan tanaman-tanaman konvensional dalam hal risiko bahayanya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, demikian menurut sebuah laporan yang dipublikasikan pada bulan Mei 2016 oleh the U.S. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine.

Leland Glenna, associate professor sosiologi dan sains, teknologi dan masyarakat pedesaan di Penn State’s College of Agricultural Sciences, menjabat pada komite yang menyusun laporan tersebut.

“Komite studi ini tidak menemukan bukti kuat mengenai perbedaan risiko terhadap kesehatan manusia antara tanaman rekayasa genetis yang sekarang dikomersialkan —khususnya kedele, jagung dan kapas—dengan tanaman yang dikembangbiakkan secara konvensional. Komite ini juga tidak menemukan bukti sebab-akibat yang konklusif mengenai permasalahan lingkungan dari tanaman rekayasa genetis,” kata Glenna. “Temuan-temuan ini tidaklah berarti untuk ditafsirkan bahwa masih tidak ada tantangan-tantangan terkait dengan tanaman konvensional dan tanaman rekayasa genetis, bahwa tanaman rekayasa genetis yang ada sekarang dan tanaman-tanaman konvensional tidaklah berbeda dalam hal risikonya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.”

Glenna, seorang sosiolog yang mengkaji mengenai bagaimana lembaga-lembaga sosial mempengaruhi agenda-agenda penelitian ilmiah dan, seorang yang selama 15 tahun telah mengkaji dampak sosial dari ilmu dan teknologi pertanian, mencatat bahwa tanaman-tanaman rekayasa genetis secara umum digambarkan baik sebagai solusi sekaligus sebab dari masalah-masalah sosial dan ekonomi.

“Tanaman-tanaman rekayasa genetis umumnya juga digambarkan seolah-olah hanya terdapat dua pihak dalam perdebatan ini : yaitu apakah anda memihak atau menentang tanaman tersebut,” katanya. “Namun teknologi-teknologi baru membawa baik janji maupun ancaman; apa yang bagi seseorang menjanjikan mungkin menjadi ancaman bagi yang lain.”

“Namun demikian, penelitian yang ada masih belum mencukupi untuk dapat membuat pernyataan yang konklusif tentang dampak sosial dan ekonomi dari teknologi-teknologi tanaman rekayasa genetis. Harapan saya orang-orang yang membaca dan membahas laporan ini tidak terjebak pada paradigna yang ada, namun sebaliknya mengakui adanya kerumitan dan nuansa-nuansa tanaman rekayasa genetis.”

Para peneliti tersebut menggunakan data yang dipublikasikan selama dua dekade terakhir yang berasal dari lebih dari 900 publikasi penelitian dan publikasi lainnya untuk mengevaluasi dampak positif dan negatif dari tanaman rekayasa genetis – yaitu tanaman-tanman yang direkayasa secara genetis sehingga tahan terhadap serangga dan herbisida. Para ilmuwan tersebut juga mendengar dari lebih 80 pembicara yang berbeda dan membaca lebih dari 700 komentar dari para masyarakat umum untuk memperluas pemahaman mereka mengenai isu-isu tanaman rekayasa genetis.

Hampir 180 juta hektar tanaman rekayasa genetis ditanam secara global pada tahun 2015, yang secara kasar merupakan 12 persen dari lahan dunia yang ditanami pada tahun itu.

Menurut laporan tersebut, tanaman-tanaman Bt, yaitu tanaman-tanaman yang mengandung gen tahan serangga dari bakteri tanah Bacillus thuringiensis, meliputi bagian besar dari lahan tanaman rekayasa genetis. Para peneliti tersebut menemukan bahwa mulai dari tahun 1996 sampai 2015, penggunaan jagung dan kapas Bt berkontribusi pada menurunnya penggunaan insektisida sintetis dan kerugian tanaman. Beberapa populasi hama serangga menurun; namun demikian, keanekaragaman serangga naik secara keseluruhan. Ketahanan serangga terhadap protein-protein Bt lambat terbangun, hanya ketika tanaman menghasilkan sejumlah besar protein Bt sehingga dapat membunuh serangga-serangga tersebut. Tingkat-tingkat ketahanan yang merusak benar-benar berevolusi dalam beberapa spesies apabila tidak diikuti strategi-strategi manajemen ketahanan (resistensi).

Tim tersebut menemukan bahwa penggunaan tanaman yang tahan heribisida (tahan glifosat) berkontribusi pada meningkatnya hasil tanaman dengan menurunnya tekanan gulma. Ketika tanaman demikian pertama digunakan, total kilogram herbisida yang diaplikasikan per hektar tanaman per tahun menurun, meskipun penurunan tersebut umumnya tidak berkesinambungan. Beberapa spesies gulma telah berevolusi menjadi resisten terhadap glifosat; namun demikian, tim tersebut mengingatkan bahwa penundaan resistensi tersebut dimungkinkan dengan manajemen gulma terpadu.

Untuk menguji efek tanaman dan makanan rekayasa genetis terhadap kesehatan manusia, tim tersebut mempelajari studi eksperimental hewan dan menemukan kurangnya bukti bahwa hewan mendapat bahaya dengan mengonsumsi makanan yang berasal dari tanaman rekayasa genetis.

“Banyak orang khawatir bahwa mengkonsumsi makanan rekayasa genetis dapat menyebabkan kanker, obesitas dan gangguan seperti spektrum autis dan alergi,” kata Glenna. “Namun, tim tersebut memeriksa sekumpulan data epidemiologi dari waktu ke waktu dari Amerika Serikat dan Kanada, di mana makanan rekayasa genetis telah dikonsumsi sejak akhir 1990-an, dan sekumpulan data yang sama dari Inggris dan Eropa Barat, di mana makanan rekayasa genetis tidak banyak dikonsumsi. Kami tidak menemukan perbedaan di antara negara-negara tersebut dalam masalah-masalah kesehatan tertentu.”

Tim tersebut juga menemukan bahwa pendapatan ekonomi dari tanaman rekayasa genetis telah menguntungkan bagi sebagian besar produsen yang telah menggunakan tanaman ini. Namun, biaya benih rekayasa genetis dapat membatasi penggunaan tanaman rekayasa genetis oleh petani kecil yang miskin sumber daya. Selanjutnya, manfaat ekonomi cenderung bertambah bagi penanam awal. Tim itu menyimpulkan bahwa penggunaan jangka panjang dan luas tanaman rekayasa genetis akan tergantung pada dukungan kelembagaan dan akses ke pasar lokal dan global yang menguntungkan.

Sumber:
Review of studies finds genetically engineered crops are safe

Posted in Berita Pertanian | Tagged , , , , , , , , | Leave a comment

Bakteri pada Cabang Dapat Memupuk Pepohonan Secara Alami

Co-penulis Andrew Sher mengambil sampel salah satu pohon poplar. Kredit: Sharon L. Doty

Co-penulis Andrew Sher mengambil sampel salah satu pohon poplar. Kredit: Sharon L. Doty

Bakteri di dalam dan di luar tubuh kita telah terbukti mempunyai peran penting bagi kesehatan manusia, karena pengaruhnya terhadap gizi, obesitas dan perlindungan dari penyakit.
Tetapi hanya baru-baru ini ilmu pengetahuan menyelidiki pentingnya mikrobioma tumbuhan. Karena tumbuhan tidak bisa bergerak, maka tumbuhan sangat bergantung pada hubungan dengan mikroba untuk membantu mendapatkan zat hara.
Saat ini, ahli mikrobiologi tumbuhan, Sharon Doty, dari University of Washington, bersama dengan timnya yang terdiri dari mahasiswa sarjana dan pascasarjana serta staf, telah menunjukkan bahwa pohon poplar yang tumbuh di lahan yang berbatu, dan tidak ramah dapat menjadi tempat bagi bakteri yang bisa memberikan hara yang berharga untuk membantu tumbuhan tersebut tumbuh. Temuan tersebut, yang bisa memiliki implikasi bagi produktivitas tanaman pertanian dan tanaman bioenergi, diterbitkan pada tanggal19 Mei di jurnal PLoS ONE.
Para peneliti menemukan bahwa komunitas mikroba sangat beragam, bervariasi secara dramatis bahkan dalam irisan-irisan yang berdekatan satu sama lain.
“Keragaman ini membuat sangat sulit untuk mengukur aktivitasnya, tetapi merupakan kunci bagi biologi karena mungkin hanya kelompok-kelompok mikroorganisme tertentu saja yang bekerja sama untuk memberikan hara ini kepada inangnya,” kata Doty, seorang profesor di Fakultas Ilmu Lingkungan dan Kehutanan University of Washington.

Dalam situs penelitian ini,  di sepanjang Sungai Snoqualmie, poplar dan willow merupakan spesies tumbuhan yang dominan di dataran banjir dan didominasi bebatuan serta dengan nitrogen terbatas ini. Foto diambil pada tahun 2002, 2006 dan 2015. Kredit: Sharon L. Doty

Dalam situs penelitian ini, di sepanjang Sungai Snoqualmie, poplar dan willow merupakan spesies tumbuhan yang dominan di dataran banjir dan didominasi bebatuan serta dengan nitrogen terbatas ini. Foto diambil pada tahun 2002, 2006 dan 2015. Kredit: Sharon L. Doty

Fiksasi nitrogen adalah proses alami yang penting untuk mempertahankan semua bentuk kehidupan. Di lingkungan rendah hara yang terjadi secara alami seperti lahan-lahan berbatu, tandus, tumbuh-tumbuhan berasosiasi dengan bakteri pengikat nitrogen untuk memperoleh hara penting ini.
Adalah sudah terdokumentasikan dengan baik bahwa fiksasi nitrogen terjadi pada nodul-nodul yang kaya bakteri pada akar kacang-kacangan seperti kedelai, cengkeh, alfalfa dan lupin. Bakteri-bakteri ini membantu akar mengikat gas nitrogen atmosfer menjadi bentuk yang dapat digunakan oleh tanaman.
Ada keyakinan yang kuat bahwa hanya tanaman dengan bintil akar saja yang bisa mendapatkan keuntungan simbiosis ini. Namun, penelitian ini memberikan bukti langsung pertama bahwa fiksasi nitrogen dapat terjadi di cabang-cabang pohon, tanpa perlu adanya bintil akar.
Hal ini bisa memiliki implikasi signifikan bagi tanaman-tanaman umum pertanian. Mikroba-mikroba yang telah diisolasi dari tanaman poplar dan willow liar oleh tim tersebut ternyata dapat membantu jagung, tomat dan paprika, serta rumput rumput dan pohon-pohon hutan untuk tumbuh dengan jumlah pupuk yang lebih kecil.
Pupuk dibuat dengan menggunakan bahan bakar fosil, sehingga biayanya dapat sangat fluktuatif. Karena pupuk digunakan untuk menumbuhkan segala jenis tanaman mulai dari tanaman pertanian, tanaman bioenergi, tanaman pohon untuk diambil kayunya sampai dengan rumput di lapangan golf, harga dan ketersediaannya yang tidak stabil tersebut pasti mempengaruhi semua orang.
“Dengan memiliki akses ke strain mikroba-mikroba kunci yang membantu tanaman-tanaman liar yang tumbuh hanya pada batu dan pasir akan menjadi sangat krusial untuk menggerakkan pertanian, bioenergi dan kehutanan jauh dari ketergantungan pada pupuk kimia menuju cara yang lebih alami untuk meningkatkan produktivitas tanaman,” kata Doty.

Sumber:
Bacteria in branches naturally fertilize trees

Posted in Berita Pertanian | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Para Ilmuwan Berhasil Mengidentifikasi Protein Yang Dapat Meningkatkan Hasil Padi Sampai 50% Lebih

Bekerja sama dengan para peneliti di Universitas Pertanian Nanjing, Dr Tony Miller dari John Innes Centre telah mengembangkan tanaman padi yang memiliki kemampuan lebih dalam mengelola level pHnya sendiri, sehingga memungkinkan untuk menyerap lebih banyak nitrogen, besi dan fosfor dari tanah dan meningkatkan hasilnya hingga 54 persen.

Padi merupakan tanaman utama, yang menjadi pangan bagi hampir 50 persen dari penduduk dunia dan telah mempertahankan kemampuan untuk bertahan dalam perubahan kondisi lingkungan. Tanaman ini mampu berkembang di lahan-lahan tergenang – dimana kondisi anaerob dan basah mendorong ketersediaan amonium – serta di lahan- lahan kering, di mana peningkatan jumlah oksigen mendorong ketersediaan nitrat. Pupuk nitrogen merupakan faktor utama dalam pembiayaan budidaya sebagian besar tanaman sereal dan penggunaannya yang berlebihan memiliki dampak lingkungan yang negatif.

Nitrogen yang diperlukan oleh semua tanaman untuk dapat tumbuh biasanya tersedia dalam bentuk ion-ion nitrat atau amonium di dalam tanah, yang diserap oleh akar tanaman. Bagi tanaman, mendapatkan keseimbangan nitrat dan amonium yang tepat merupakan hal sangat penting: terlalu banyak amonium berakibat sel tanaman menjadi basa; dan terlalu banyak nitrat berakibat sel tanaman menjadi asam. Dengan kata lain, terganggunya keseimbangan pH berarti enzim tanaman tidak dapat bekerja dengan baik, yang mempengaruhi kesehatan tanaman dan hasil panen.

Bersama dengan para mitranya di Nanjing, Cina, tim Dr Miller telah bekerja keras untuk mengetahui bagaimana tanaman padi dapat mempertahankan pH dalam kondisi lingkungan yang berubah-ubah.

Padi mengandung gen yang disebut OsNRT2.3, yang menciptakan protein yang terlibat dalam transportasi nitrat. satu gen ini membuat dua versi protein yang sedikit berbeda yaitu: OsNRT2.3a dan OsNRT2.3b. Menyusul berbagai tes yang dilakukan untuk menentukan peran kedua versi protein tersebut, tim Dr Miller menemukan bahwa OsNRT2.3b mampu mengaktifkan maupun menonaktifkan transportasi nitrat, tergantung pada pH internal sel tanaman.

Ketika protein ‘b’ ini dioverekspresikan pada tanaman padi, tanaman tersebut lebih mampu menyangga diri terhadap perubahan pH dalam lingkungannya. Hal ini memungkinkan tanaman tersebut untuk mengambil lebih banyak nitrogen, serta lebih banyak zat besi dan fosfor. tanaman padi ini memberi hasil gabah yang jauh lebih tinggi (hingga 54 persen lebih banyak), dan efisiensi penggunaan nitrogennya meningkat hingga 40 persen.

Dr Miller mengatakan:

“Sekarang kita tahu protein tertentu yang ditemukan dalam tanaman padi ini dapat meningkatkan efisiensi nitrogen dan hasil panenannya, kita dapat mulai menghasilkan varietas-varietas baru padi dan tanaman lainnya. Temuan ini membawa kita satu langkah yang cukup dekat ke arah untuk dapat memproduksi pangan dunia yang lebih banyak dengan dampak lingkungan yang lebih rendah. “

Teknologi baru ini telah dipatenkan oleh PBL, perusahaan manajemen inovasi John Innes Centre, dan telah dilisensikan ke 3 perusahaan yang berbeda untuk mengembangkan varietas baru dari 6 spesies tanaman yang berbeda.

Sumber :
Scientists identify protein which boosts rice yield by fifty percent

 

Posted in Berita Pertanian | Tagged , , , , , | Leave a comment

Logam Berat dan Radioaktivitas dalam Pupuk Fosfat : Efek Merugikan Jangka Pendek

Logam berat didefinisikan sebagai kelompok unsur kimia yang kerapatannya lebih dari 5 gram/cm3. Namun, definisi seperti itu diambil dari literatur teknis. Untuk klasifikasi biologis, lebih tepat untuk mendefiniskan unsur-unsur tersebut bukan berdasarkan kerapatannya, tapi berdasarkan massa atomnya, artinya bahwa logam berat adalah semua logam dengan massa relatif lebih dari 40.

Ilustrasi : Penambangan Batuan Fosfat di Maroko

Logam berat pada umumnya dianggap selalu beracun. Padahal konsep tersebut tidaklah benar, karena dalam kelompok logam tersebut: tembaga, seng, molibdenum, kobalt, mangan, besi, terbukti sudah lama, semua menunjukkan aktivitas biologis positif. Beberapa dari logam tersebut disebut sebagai “hara mikro” karena dalam konsentrasi rendah, logam-logam tersebut berguna dan diperlukan oleh makhluk hidup. Jadi, hara mikro dan logam berat memiliki kesamaan, tetapi menjadi berbeda yang mana tergantung pada konsentrasinya di dalam tanah, pupuk dan hasil pertanian. Akan lebih tepat untuk menggunakan istilah “logam berat” jika mengacu pada konsentrasi unsur berbahaya bagi organisme hewan dengan massa atom relatif lebih dari 40, dan istilah “hara mikro” dalam tanah, tanaman, hewan dan manusia pada konsentrasi tak beracun atau bila digunakan dalam jumlah kecil sebagai pupuk atau aditif makanan mineral untuk perbaikan kondisi pertumbuhan, perkembangan tanaman dan hewan[1].
Continue reading

Posted in Seputar Pupuk | Tagged , , , , , , , | Leave a comment