Studi Menunjukkan Bahwa Tanaman Hasil Rekayasa Genetik Ternyata Aman

crops

Credit: SC Department of Agriculture

22 September, 2016 oleh Sara Lajeunesse

Tanaman-tanaman rekayasa genetis ternyata tidak berbeda dengan tanaman-tanaman konvensional dalam hal risiko bahayanya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, demikian menurut sebuah laporan yang dipublikasikan pada bulan Mei 2016 oleh the U.S. National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine.

Leland Glenna, associate professor sosiologi dan sains, teknologi dan masyarakat pedesaan di Penn State’s College of Agricultural Sciences, menjabat pada komite yang menyusun laporan tersebut.

“Komite studi ini tidak menemukan bukti kuat mengenai perbedaan risiko terhadap kesehatan manusia antara tanaman rekayasa genetis yang sekarang dikomersialkan —khususnya kedele, jagung dan kapas—dengan tanaman yang dikembangbiakkan secara konvensional. Komite ini juga tidak menemukan bukti sebab-akibat yang konklusif mengenai permasalahan lingkungan dari tanaman rekayasa genetis,” kata Glenna. “Temuan-temuan ini tidaklah berarti untuk ditafsirkan bahwa masih tidak ada tantangan-tantangan terkait dengan tanaman konvensional dan tanaman rekayasa genetis, bahwa tanaman rekayasa genetis yang ada sekarang dan tanaman-tanaman konvensional tidaklah berbeda dalam hal risikonya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.”

Glenna, seorang sosiolog yang mengkaji mengenai bagaimana lembaga-lembaga sosial mempengaruhi agenda-agenda penelitian ilmiah dan, seorang yang selama 15 tahun telah mengkaji dampak sosial dari ilmu dan teknologi pertanian, mencatat bahwa tanaman-tanaman rekayasa genetis secara umum digambarkan baik sebagai solusi sekaligus sebab dari masalah-masalah sosial dan ekonomi.

“Tanaman-tanaman rekayasa genetis umumnya juga digambarkan seolah-olah hanya terdapat dua pihak dalam perdebatan ini : yaitu apakah anda memihak atau menentang tanaman tersebut,” katanya. “Namun teknologi-teknologi baru membawa baik janji maupun ancaman; apa yang bagi seseorang menjanjikan mungkin menjadi ancaman bagi yang lain.”

“Namun demikian, penelitian yang ada masih belum mencukupi untuk dapat membuat pernyataan yang konklusif tentang dampak sosial dan ekonomi dari teknologi-teknologi tanaman rekayasa genetis. Harapan saya orang-orang yang membaca dan membahas laporan ini tidak terjebak pada paradigna yang ada, namun sebaliknya mengakui adanya kerumitan dan nuansa-nuansa tanaman rekayasa genetis.”

Para peneliti tersebut menggunakan data yang dipublikasikan selama dua dekade terakhir yang berasal dari lebih dari 900 publikasi penelitian dan publikasi lainnya untuk mengevaluasi dampak positif dan negatif dari tanaman rekayasa genetis – yaitu tanaman-tanman yang direkayasa secara genetis sehingga tahan terhadap serangga dan herbisida. Para ilmuwan tersebut juga mendengar dari lebih 80 pembicara yang berbeda dan membaca lebih dari 700 komentar dari para masyarakat umum untuk memperluas pemahaman mereka mengenai isu-isu tanaman rekayasa genetis.

Hampir 180 juta hektar tanaman rekayasa genetis ditanam secara global pada tahun 2015, yang secara kasar merupakan 12 persen dari lahan dunia yang ditanami pada tahun itu.

Menurut laporan tersebut, tanaman-tanaman Bt, yaitu tanaman-tanaman yang mengandung gen tahan serangga dari bakteri tanah Bacillus thuringiensis, meliputi bagian besar dari lahan tanaman rekayasa genetis. Para peneliti tersebut menemukan bahwa mulai dari tahun 1996 sampai 2015, penggunaan jagung dan kapas Bt berkontribusi pada menurunnya penggunaan insektisida sintetis dan kerugian tanaman. Beberapa populasi hama serangga menurun; namun demikian, keanekaragaman serangga naik secara keseluruhan. Ketahanan serangga terhadap protein-protein Bt lambat terbangun, hanya ketika tanaman menghasilkan sejumlah besar protein Bt sehingga dapat membunuh serangga-serangga tersebut. Tingkat-tingkat ketahanan yang merusak benar-benar berevolusi dalam beberapa spesies apabila tidak diikuti strategi-strategi manajemen ketahanan (resistensi).

Tim tersebut menemukan bahwa penggunaan tanaman yang tahan heribisida (tahan glifosat) berkontribusi pada meningkatnya hasil tanaman dengan menurunnya tekanan gulma. Ketika tanaman demikian pertama digunakan, total kilogram herbisida yang diaplikasikan per hektar tanaman per tahun menurun, meskipun penurunan tersebut umumnya tidak berkesinambungan. Beberapa spesies gulma telah berevolusi menjadi resisten terhadap glifosat; namun demikian, tim tersebut mengingatkan bahwa penundaan resistensi tersebut dimungkinkan dengan manajemen gulma terpadu.

Untuk menguji efek tanaman dan makanan rekayasa genetis terhadap kesehatan manusia, tim tersebut mempelajari studi eksperimental hewan dan menemukan kurangnya bukti bahwa hewan mendapat bahaya dengan mengonsumsi makanan yang berasal dari tanaman rekayasa genetis.

“Banyak orang khawatir bahwa mengkonsumsi makanan rekayasa genetis dapat menyebabkan kanker, obesitas dan gangguan seperti spektrum autis dan alergi,” kata Glenna. “Namun, tim tersebut memeriksa sekumpulan data epidemiologi dari waktu ke waktu dari Amerika Serikat dan Kanada, di mana makanan rekayasa genetis telah dikonsumsi sejak akhir 1990-an, dan sekumpulan data yang sama dari Inggris dan Eropa Barat, di mana makanan rekayasa genetis tidak banyak dikonsumsi. Kami tidak menemukan perbedaan di antara negara-negara tersebut dalam masalah-masalah kesehatan tertentu.”

Tim tersebut juga menemukan bahwa pendapatan ekonomi dari tanaman rekayasa genetis telah menguntungkan bagi sebagian besar produsen yang telah menggunakan tanaman ini. Namun, biaya benih rekayasa genetis dapat membatasi penggunaan tanaman rekayasa genetis oleh petani kecil yang miskin sumber daya. Selanjutnya, manfaat ekonomi cenderung bertambah bagi penanam awal. Tim itu menyimpulkan bahwa penggunaan jangka panjang dan luas tanaman rekayasa genetis akan tergantung pada dukungan kelembagaan dan akses ke pasar lokal dan global yang menguntungkan.

Sumber:
Review of studies finds genetically engineered crops are safe

This entry was posted in Berita Pertanian and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *